Jumat, 06 Januari 2012

ANJANEYA MAKAN MATAHARI


Pada suatu hari, Deva Siva dan istrinya Parvati Devi melihat para kera sedang bermain-main di lereng Gungung Kailasa. Mereka ingin bermain seperti itu pula. Sehingga mereka mengambil wujud kera dan menikmati berayunan di cabang-cabang pepohonan, mereka juga menikmati buah-buahan segar yang ada disana. Mereka menjadi kera hanya sebentar saja, akan tetapi setelah mereka kembali ke wujud semula yaitu sebagai Deva Siva dan Parvati, Parvati terkejut sekali. Dia menyadari bahwa dia telah hamil. Tak lama kemudian dia melahirkan seekor kera bayi.
Melihat istrinya kecewa, Siva memanggil Deva Vayu yaitu Deva angin. "Bawalah bayi ini pergi, carilah seseorang untuk merawatnya". Karena Vayu adalah Deva Angin yang bertiup kemana-mana maka dia mengetahui segala sesuatu. Dia mengatakan tentang sekelompok manusia kera yaitu para Vanara yang tinggal di tengah hutan Kishkinda. Dia juga mengetahui tentang pemimpin mereka yaitu Raja Keshari dan Ratu Anjana yang sedan tidak bahagia karena tidak mempunyai anak.
Ketika raja dan ratu sedang duduk di tempat sembahyang, berdoa untuk mendapatkan anak, Vayu yang tidak kelihatan, meletakkan bayi kera itu dipangkuan Anjana. Karena merasa riang bahwa doa untuk mendapatkan anak dipenuhi maka raja dan ratu memberikan bayi itu nama Anjaneya (putra Anjana). Pertumbuhan anak itu sangat cepat sekali, tidak seperti bayi biasanya. Rasa laparnya terus bertambah sehingga ibunya kesulitan mencarikan dia cukup makanan. Pada suatu hari anak itu menangis, Aku masih lapar, apa yang dapat aku makan lagi".
Ibunya sudah tidak punya makanan lagi. Tapi ibunya berpikir bahwa anaknya sudah cukup besar untuk mencari makanan sendiri didalam hutan. Dia melihat matahari di angkasa  di senja itu dan berkata, "Akut tidak punya makanan lagi untukmu, Nak!" tapi kalau kau mau, kau bisa cari sendiri buah-buahan di hutan. Kau akan tahu buah mana yang enak untuk kau makan karena manapun yang merak seperti matahari pasti matang. Anjaneya adalah anak yang pintar. Dia berkata, "terima kasih atas nasehatmu, Ibu ! Tapi semua buah di hutan terlalu sedikit bagiku. Matahari berwarna merah; oleh karena itu dia pasti masak, dan matahari adalah buah yang besar, bukan ?, pasti dia akan memuaskan rasa laparku". Ibu mencoba untuk menjelaskan bahwa itu bukan gagasan yang baik, tapi Anjaneya tidak mau mendengarkannya. Dengan kekuatan dari ayahnya Siva dan Vayu, dia meloncat tinggi ke angkasa dan membesarkan diri sebesar-besarnya.
Deva matahari yang duduk di atas kereta yang ditarik oleh 8 kuda yang bersinar terang benderang melaju dengan cepat di angkasa. Tapi Anjaneya menangkapnya kemudian menelannya. Seluruh angkasa menjadi gelap gulita. Indra, raja surga bertanya kepada Agni (Dewa api) "apakah yang menyebabkan kegelapan yang mendadak ini ?". "Sesuatu pasti menghalangi matahari, lepaskan petir Anda kepadanya", kata Deva Agni. Lalu Indra melepaskan senjata petirnya yang mengerikan itu, senjata itu menggelegar di angkasa dan dengan sinar-sinar bintang, Indra melesat menujut matahari sambil menaiki Gajahnya.
Petir itu menghantam sisi wajah Anjaneya, menyakitkan rahangnya. Anjaneya mengambil petir itu darinya. Ketika Indra tiba melihat seekor kera yang besar sedang memegang senjatanya. Karena bingung dia lari menemui Brahma, kakek para Deva. Indra menceritakan apa yang telah dilihatnya namun Brahma hanya tersenyum saja. "Kera ini memiliki kekuatan dari Siva sehingga kau tak bisa memaksa dia untuk membuka mulutnya. Kau harus minta kepadanya secara baik-baik agar dia mau melepaskan matahari dari mulutnya. Kemudian Brahma, Indra, Vayu, Agni bersama dengan jutaan Deva lainnya mendekati Anjaneya. Mereka memohon "Tolonglah, buka mulut Anda". Mengapa aku harus melakukannya ?", jawab Anjaneya sambil mulutnya tetap tertutup (dia menyakut lewat katupan giginya).
"Kalalu kau lakukan, kau akan berusia panjang", kata Brahma. "Kalau kau lakukan, kau akan termasyur", kata Indra. "Kalau kau lakukan, api tidak akan membakarmu", kata Agni." Kalau kau lakukan, kau akan secepat angin", kata Vayu. Akan tetapi Anjaneya tidak peduli dengan kata-kata mereka. Dia tetap menyimpan matahari didalam mulutnya. Yang dia inginkan sekarang adalah bagaimana agar rahangnya berhenti sakit. Brahma dapat membaca pikiran Anjaneya. Dia berkata "Anjaneya, aku tahu bagaimana cara menyembuhkan rahangmu itu". Anjaneya melihat padanya dengan keraguan. Apakah ini suatu tipuan. Namun Brahma memercikkan air dari mangkok ajaibnya pada pipi Anjaneya dan seketika sakitnya hilang. Anjaneya tersenyum pada Brahma.
Kemudian Brhaspati, Guru para deva, datang mendekat, "Anjaneya, kami tahu kau lapar oleh karena itu kau mencoba untuk makan matahari", Brhaspati berkata, "Matahari bukanlah makanan yang baik. Dia bukan makanan sama sekali. Kami akan memberikanmu berkah agar dengan mudah mengumpulkan buah-buahan dari seluruh dunia untuk memuaskan rasa laparmu". Namun Anjaneya masih tidak mau melepaskan matahari dari dalam mulutnya. Dia masih sedang mempertimbangkan berkah itu. Brhaspati melanjutkan, "Kami akan memberkahimu agar kau bisa meramu obat-obatan dari pepohonan, sehingga kau akan dapat membuat berbagai jenis obat". Berpikir bahwa berkat ini cocok untuknya, Anjaneya setuju untuk membuka mulutnya. Matahari keluar dari mulutnya sehingga angkasa terangk kembali.
Dari sejak itu Anjaneya dipanggil "Hanuman" artinya seseorang yang rahangnya disembuhkan. Hanuman banyak makan buah-buahan yang lezat dan dia memiliki pengetahuan tentang tanaman-tanaman yang menyembuhkan. Dia menjadi terkenal di seluruh India dan di seluruh dunia sebagai abdi Sri Ramachandra yang mulia.

CAKRIKA


Pada jaman dvapara, ada seseorang pulinda (orang yang hidup di gunung, golongan orang dibawah Sudra) yang bernama Cakrika. Namun dia memiliki sifat kebrahmanaan; toleransi, berbuat kekerasan, mengendalikan marah, nafsu dan indria-indria lainnya. Dia tidak mempelajari kitab suci namun entah bagaimana dia mempunyai pelayanan Bakti yang spontan kepada Sri Visnu.
Setiap hari dia mengingat nama Pemegang Cakra, Hari Kesava, Vadudeva dan Janardana Setiap saat dia mempersembahkan buah-buahan yang dia peroleh dari hutan pegunungan kepada Sri Visnu. Namun sebelum dia mempersembahkan buah-buahan yang dia peroleh dari hutan pegunungan kepada Sri Visnu. Namun sebelum dia mempersembahkan buah-buahan itu, dia mencicipi dulu apakah buah itu manis atau tidak. Kalau buah-buahan itu manis rasanya maka dikeluarkan lagi dari mulut dan dengan senang hati dia mempersembahkan buah-buahan itu kepada Visnu.
Pada suatu hari, ketika dia sedang berkeliling di hutan tiba-tiba dia menemukan sebiji buah yang masak. Pohon itu bernama Prilaya. Dia tidak pernah menemukan buah itu sebelumnya. Dengan bahagia dia memetik dan memasukkan buah itu kedalam mulut untuk mencicipi rasa buah itu.
Tiba-tiba buah itu masuk sampai kedalam kerongkongannya. Sambil memegang lehernya agar buah itu tidak masuk kedalam perutnya dia berpikir, "Kalau aku tidak mempersembahkan buah ini kepada Sri Visnu, maka pendosa seperti aku ini akan lahir lagi kedunia material". Sambil terus meditasi pada Visnu Cakrika akhirnya memutuskan untuk memenggal lehernya, karena dia tidak mau makan-makanan yang belum dipersembahkan. Pelan-pelan di mengambil kapaknya dan memotong lehernya. Dengan berlumuran darah dia mengeluarkan buah itu dari kerongkongannya dan mempersembahkannya pada Visnu. Setelah itu dia jatuh ketanah dan mati.
Melihat Cakrika meninggal, Visnu merasa sedih "tidak ada penyembah seperti dia, karena dia telah memotong lehernya hanya demi memuaskan aku, karena penyembanhnya itu telah berbakti begitu tulus kepadaKu, bagaimana Aku harus membayar hutang kepadanya. Aku tidak tahu harus memberikan Dia kedudukan Brahma atau Siva agar Aku bisa bebas dari hutang ini"
Kemudian Sri Visnu mendekati Cakrika dan menyentuhkan tanganNya pada kepala Cakrika, karena sentuhan itu Cakrika hidup kembali. Selanjutnya Visnu membersihkan debu-debu yang berada pada tubuh Cakrika dengan pakaiannya sendiri bagaikan seorang ayah yang membersihkan debu pada badan anaknya. Cakrika yang melihat Sri Visnu hadir secara pribadi dihadapannya, dia menundukkan kepala dan tangannya tercakup dia menyampaikan doa-doa pujian.
Cakrika berdoa, "O govinda, Kesava, Hari, Visnu, walaupun hamba tidak tahu memuji Anda namun bibir ini ingin memuji Anda juga. Atas karunia Sri Visnu Cakrika pun dengan bahasa yang indah menyampaikan doa-doa pujian untuk memuliakan dan mengagungkan Tuhan Visnu. Kemudian Sri Visnu bersabda, "Wahai PenujaKu O Cakrika, pilihlah berkah apa yang kau inginkan".
Cakrika berkata, "O Devata, dengan melihat Anda tidak ada yang ingin lagi hamba capai. Namun apabila Anda menginginkan agar hamba minta sesuatu maka berkahilah agar hamba melakukan pelayanan Bhakti yang murni kepada Anda dalam setiap penjelmaan hamba". Setelah mendengar kata-kata Cakrika ini, Sri Visnu merasa puas lalu memeluknya dengan keempat lenganNya. Tuhan bersabda, wahai Cakrika yang Aku cintai, Aku puas dengan pengabdianmu. Setelah bersabda demikian Sri Visnu menghilang. Akhirnya Cakrika meninggalkan anak istrinya untuk pergi ke Dvaraka. Disana dia melanjutkan pengabdian sucinya pada Sri Visnu dan setelah beberapa waktu dia meninggalkan badan kembali pulang, pulang kepada Tuhan Yang Maha Esa , Sri Visnu.

KEMULIAAN RAMA


Pada jaman Satya, hiduplah seorang vaisya yang bernama Parasu. Dia seorang vaisya yang saleh, namun karena nasib malang dia meninggal diusia mudanya. Istrinya yang bernama Jivanti sangat cantik. Setelah kematian suaminya dia pulang kepada orang tuanya. Banyak orang yang memuji kecantikan Jivanti sehigga dia menjadi sombong dengan kemolekan tubuhnya dia memikat banyak lelaki hidung belang. Wanita yang bernfasu ini akhirnya menjadi pelacur. Ayahnya merasa terpukul dan malu melihat tingkah laku anaknya itu. Dia berkata, "Hai pendosa, setelah kau lahir di keluargaku mengapa kau bawakan aku aib". Aku tidak sudi melihatmu, enyahlah dari rumah ini, pergilah sejauh-jauhnya". Mendengar kata-kata  ayahnya ini, Jivanti pergi sambil matanya merah karena marah. Di tempat lain dia tetap jadi pelacur. Pelanggannya berasal dari berbagai golongan lelaki bahkan dari kaum, candala dan perempuan ini melayani mereka dengan senang hati. Dia tidak pernah memikirkan apa yang terjadi terhadap penjelmaannya yang berikutnya.
Pada suatu ketika, seorang penjual burung kerumah pelacur itu untuk menjual burung parkit. Pelacur Jivanti membeli burung parkit yang masih mudah itu. Dia rajin memberikan burunya makan dan karena dia tidak punya anak, dia menganggap burung itu sebagai anaknya sendiri. Dengan getaran suara yang indah pelacur itu mengajarkan burungnya untuk mengucapkan nama Rama setiap hari, sehingga burung itu selalu mengucapkan nama Rama. Karena mengucapkan nama Rama maka dosa-dosa burung dan pelacur itu dihancurkan. Setelah beberapa waktu mereka mati bersamaan. Yamaduta datang menyeret jiva mereka. Visnudutapun datang. Mereka sangat marah yamaduta sedang mengikat kedua roh itu. Kemudian mereka memberikan pelajaran tentang siapa yang harus yamaduta seret dan siapa yang tidak boleh mereka ambil, namun yamaduta tidak dapat terima. Malah dia menantang Visnuduta sehingga terjadi pertempuran yang dahsyat. Yamaduta yang dipimpin oleh Canda menghadapi Visnuduta yang dipimpin oleh Suprakasa. Pertempuran berakhir dengan kekalahan Yamadutha. Sambil berlumuran darah Yamaduta pergi menghadap Yama, Deva kematian. Yamaduta berkata, "O Putra Matahari, walaupun pelacur dan burung itu penuh dosa, karena kemuliaan nama Rama mereka pergi ke tempat tinggal Visnu. Katakanlah pada kami mengapa hal ini bisa terjadi. Yamaraja berkata, "Orang yang mengucapkan nama Rama tidak berhak dihukum. Sri Visnu adalah junjungannya orang-orang di bumi dengan kebhaktian mengucapkan nama-nama : Govinda, Kesava, Hari, Jagadisa, Visnu, Narayana, Madhava dan nama-nama suci Tuhan lainnya tidak pantas aku hukum walaupun mereka adalah pendosa besar.
Demikianlah, Yamaraja memberikan pelajaran penjang lebar kepada anak buahnya tentang siapa yang harus mereka seret ke neraka. Sebagai kesimpulannya Yamaraja mengatakan urusan Yamaduta maupun Yamaraja. Seribu nama Visnu sama dengan tiga nama Rama dan Tiga nama Rama dengan satu nama Krsna. Formula untuk jaman kali sekarang ini adalah mengucapkan Maha Mantra HARE KRSNA HARE KRSNA KRSNA KRSNA HARE HARE HARE RAMA HARE RAMA RAMA RAMA HARE HARE

BERKAH SADHU


Seorang sadhu (orang suci) dan muridnya sedang berjalan-jalan melalui sebuah kota. "Marilah kita buat perjalanan ini merupakan suatu pengalaman yang bermakna, kata sadhu itu kepada muridnya. Secara kebutulan Pangeran Kerajaan itu sedang menunggangi kuda putih lewat disamping mereka.
"Salam orang suci, berilah aku berkah Anda", kata pangeran itu. Dengan mengangkat telapak tangannya, sang sadhu menjawab, "Semoga kau hidup selamanya", murid sadhu itu bertanya, guru maharaj, mengapa Engkau memberkahinya untuk hidup selamanya". Sadhu menjawab, "sekarang dia sedang menikmati kehidupan dalam kepuasan indria indria. Dia memburuh binatang sebagai sarana olah raga sehingga apabila dia mati dia akan menderita karena dosa ini. Oleh karena itu yang terbaik baginya adalah hidup selamanya seperti keadaannya sekarang ini".
Tak lama kemudian mereka melihat seorang sisya kerohanian yaitu seorang Brahmacari, berpakaian saffon, meminta minta sedekah untuk guru kerohaniannya. Ketika Sisya itu melihat sang sadhu, dia mencangkup tangannya dan menyampaikan salam hormat. Sebagai jawaban sadhu berkata, "Semoga kau mati segera". Lagi murid bertanya, "mengapa Anda mengutuknya untuk segera mati? Sadhu tertawa, "itu bukanlah kutukan tapi sebuah berkah. Saat ini dia murni dan tak berdosa. Akan tetapi kalau dia terus hidup, masa depannya bisa ditentukan. "Mengapa demikian, "tanya muridnya. "Karena selalu ada bahaya untuk jatuh dalam kehidupan duniawi. Tapi kalau dia mati sekarang pasti dia akan diangkat ke planet-planet yang lebih tinggi".
Ketika mereka mendekati pasar sang murid menutup hidungnya. Udara berbagu amis berasal dari bangkau binatang yang dikuliti, dipotong berkeping-keping dan digangung di depan toko penjualan daging. Pemilik toko yang berwajah kemerah-merahan memanggil sadhu itu. "Hello, apakah ada berkah untukku hari ini, Sekali lagi sadhu itu mengangkat telapak tangannya, "Ya. Aku berkahi kau, jangan mati dan jangan hidup". Pemilik tokok daging itu mengguman, "berkah aneh macam apa itu". Setelah meninggalkan pasar itu, muridnya bertanya, "Apa maksud Anda dengan berkah itu". "Tidakkah kau tahu bahwa tukang jagal itu saat inipun dalam keadaan neraka tanya sadhu itu. Muridnya menganggukkan kepala. Dia telah membunuh begitu banyak binatang yang tak bersalah dan dengan kegiatan itu ia pasti akan ke neraka selama beribu-ribu tahun, jadi dia akan menderita kalau dia hidup atau kalau dia mati".
Berikutnya mereka lewat di sebuah tempat sembahyang (temple) dimana seorang penyembah sedang mempersembahkan doa-doa pujian dengan tulus hati kepada Tuhan penyembah sedang mempersembahkan doa-doa pujian dengan tulus hati kepada Tuhan bahkan penyembah itu tidak menyadari sang sadhu yang sedang mendekat. Namun sadhu itu berkata, "semoga kau hidup atau semoga kau mati". Ijinkanlah saya menebak apa maksud berkah itu. "kata muridnya. "Karena terus ingat dengan Tuhan seorang penyembah selalu bahagia. Dengan demikian tidak ada pebedaan bagi seorang penyembah apakah dia hidup atau mati. Dia akan terus mengingat Tuhan dalam kehidupan ini maupun dalam penjelmaan berikutnya". Dengan tersenyum sadhu itu menjawab,"kau sedang belajar dengan baik".

NARADA MUNI DAN MARGARI


Pada suatu hari, setelah mengunjungi Narayana di Vaikuntha, Rsi mulia Narada pergi ke Prayaga untuk mandi di pertemuan tiga sungai   yaitu : Gangga, Yamuna dan Sarasvati. Ditengah perjalanan yang melalui hutan Narada Muni melihat seekor rusa menggelepar kesakitan. Lebih lanjut Narada Muni melihat seekor babi tertusuk oleh sebuah anak panah kakinya juga patah dan dia menggelepar kesakitan. Ketika Narada Muni berjalan lebih lanjut, Dia melihat seeokor kelinci juga sedang menderita. Narada Muni menjerit hatinya melihat mahluk hidup yang menderita seperti itu.
Tak lama kemudian Narada Muni melihat seorang pemburu dibalik sebatang pohon. Dia sedang memegang anak panah dan siap untuk membunuh binatang lagi. Badan pemburu itu kehitam-hitaman, matanya dan dia nampak kejam dan mengerikan. Seolah-olah adalah Deva kematian, Yamaraja, yang sedang berdiri disana dengan busur-busur dan anak panah-anak panah yang dipegagnya. Ketika Narada Muni meninggalkan jalan yang dilaluinya dan pergi mendekati pemburu itu, semua binatang itu kabur sang pemburu ingin mencaci maki Narada, tapi karena kehadiran Narada dia tak dapat bilang apa-apa. Malah dia menyapa Narada dengan sopan, "O gosvami, wahai orang suci, mengapa kau meninggalkan jalanmu dan datang kepadaku dengan hanya melihatmu semua binatang yang akan aku buru lari". Nara Mudi menjawab, aku datang padamu untuk menghilangkan suatu keraguan dipikiranku. Aku heran apakah semua babi dan binatang lainnya, yang setenga mati itu milikku. "Ya, apa yang kau katakan itu benar," jawaba sang pemburu.
Kemudian Narada Muni bertanya "Mengapa kau tidak membunuh binatang-binatang itu sepenuhnya, mengapa kau biarkan mereka sekarat dengan menusukkan anak panah ke tubuhnya ?". Sang pemburu menjawab "O, Orang suci yang terhormat, namaku Margari musuh para binatang. Ayahku yang mengajarkanku cara membunuh binatang seperti itu. Apabila aku melihat sekarat itu, aku merasa senang". Narada muni berkata "Aku ingin minta sesuatu darimu". Kemudian Sang pemburu menjawab, "Kau boleh ambil binatang manapun atau sesuatu apapun yang kau sukai". Aku punya banyak kulit binatang, apakah kau menyukainya. Aku akan memberikanmu kulit rusa atau kulit macan". Narada Muni berkata, "aku tidak menginginkan kulit rusa atau kulit macan". Narada Muni berkata, "aku tidak menginginkan kulit apapun juga. Aku hanya minta satu hal sebagai sumbangan darimua. Aku minta padamu kalau kau membunuh binatang, bunuhlah sampai mati jangan biarkan mereka sekarat". Sang pemburu menjawab, "Tuan yang mulia, apa yang kau minta ini, apanya yang salah dengan binatang-binatang itu, maukah kau menjelaskan hal ini padaku".
Narada Muni menjawab, "Kalau aku membiarkan binatang-binatang itu sekarat maka kau secara sengaja memberikan penderitaan pada mereka. Oleh karena itu sebagai balasannya kau akan harus menderita pula. Wahai pemburu, urusanmu adalah membunuh binatang. Dengan kegiatan itu kau akan mendapatkan reaksi dosa sedikit tapi jika secara sadar kau memberikan mereka penderitaan yang tidak diperlukan dengan membiarkan mereka sekarat maka kau akan menerima reaksi dosa yang paling besar. Semua binatang yang telah kau bunuh dan kau berikan penderitaan yang tidak diperlukan akan membunuhmu satu persatu dalam setiap penjelmaan. Inilah hukum alam, mamsa berarti daging. Mam sah khadati iti mansah artinya, sekarang aku makan daging binatang yang pada suatu hari nanti akan makan dagingku.
Dengan cara seperti itu, melalui pergaulan Rsi agung Nara Muni, sang pemburu sedikit disadarkan terhadap kegiatan berdosa yang dilakukannya. Oleh karena itu dia menjadi takut. Kemudian pemburu itu mengakui semua kegiatan berdosanya dan dia berkata, "Aku telah diajarkan berbuat seperti itu sejak kecil. Sekarang aku bingung bagaimana aku bisa bebas dari kegiatan berdosa yang tak terbatas ini. Tuan yang mulia, katakanlah bagaimana aku bebas dari reaksi-reaksi dosaku. Sekarang aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada Anda dan bersujud dikaki padma anda, mohon bebaskanlah aku dari reaksi-reaksi dosa. Narada menjamin sang pemburu, kalau kau mendengar ajaran-ajaranku, aku akan mecari jalan agar kau dapat dibebaskan.
Sang pemburu berkata, "Tuan apapun yang anda katakan akan aku lakukan". Narada segera memerintahkan dia, pertama-tama patahkan busur panahmu, kemudian aku akan mengatakan hal lebih lanjut yang mesti kau lakukan". Sang pemburu menjawab, "kalau aku patahkan busurku, bagaimana aku memelihara kehidupanku". Narada Muni menjawab, "jangan cemas, aku akan menyediakan makananmu setiap hari". Mendengar kata-kata Narada Muni itu sang pemburu segera mematahkan busurnya dan bersujud pada kaki padma sang rsi, menyerahkan diri.
Setelah itu Narada Muni mengangkat dia dengan tangannya dan memberikan pelajaran ajaran untuk kemajuan rohani, "pulanglah dan sumbangan kekayaan apapun setelah itu pergilah ke suatu sungai, dirikanlah sebuah pondok disana dan didepannya tanamlah pokoh tulasi ditempat yang agak tinggi. Setelah menanam Tulasi di depan rumahmu, kelilingilah tanaman tulasi itu layani dan ucapkan Maha Mantra Hare Krsna secara terus menerus. Aku akan mengirimkan makanan kepada kalian setiap hari. Kau dapat ambil makanan sesuai yang kau perlukan. Tiga ekor binatang yang sekarat itu dipulihkan kembali kesadarannya oleh Narada Muni. Memang, kemudian binatang itu bangun dan berlari. Melihat hal ini sang pemburu tersentak kaget, lalu dia menyampaikan sembah sujud kapada Narada Muni dan dia kembali pulang. Kemudian Narada Muni melanjutkan perjalanannya. Setelah pemburu itu dirumah dia melaksanakan semua ajaran-ajaran guru kerohaniannya yaitu Narada Muni. Berita bahwa sang Pemburu telah menjadi seorang vaisnava terbesar di seluruh desa sehingga para penduduk desa memberikan dia sedekah. Dalam satu hari saja makanan yang diberikan oleh mereka cukup untuk dimakan oleh 10 atau 20 orang, tapi Margari hanya menerima seperlunya sajaa. Pada suatu hari. Narada Muni dan kawannya yaitu Parvata Muni pergi untuk melihat muridnya, Margari, sang pemburu. Dari kejauhan sang pemburu dapat melihat rsi-rsi yang mulia sedang datang ke rumahnya. Dengan riang gembira dia berlari menyambut guru kerohaniannya, tapi dia tak dapat bersujud karena semut-semut sedang berlarian kesana kemari disekitar kakinya. Dengan hati-hati dia menghalau semut-semut itu dengan selembar pakaiannya lalu dia dandavat untuk menyampaikan sembah sujud.
Narada Muni berkata "Pemburu yang kucintai, tingkah lakumu yang seperti itu sama sekali tidak mengherankan. Seseorang yang berada dalam pelayanan bhakti maka penderitaan pada yang lainnya karena rasa iri".
Lalu sang pemburu menerima kedua rsi itu dihalaman rumahnya. Dia membentangkan tikar pandan dan mohon agar mereka berkenan duduk. Dia mengambil air dan dengan penuh pengabdian dia mencuci kaki kedua rsi tersebut. Pemburu dan istrinya meminum dan memercikkan air basuhan kaki-kaki rsi itu diatas kepala mereka. Ketika sang pemburu mengucapakan maha mantra Hare Krsna di dapan guru kerohaniannya, badannya gemetaran dan air mata kebagian rohani mulai mengalir dari matanya. Dia mengangkat tangannya dan mulai menari.
Tatakala Parvata Muni melihat gejala-gejala kebagian rohani sang pemburu, dia berkata, "Narada anda adalah permata cintamani. Atas karunia Anda, bahkan orang yang lahir rendah sekalipun seperti pemburu ini dapat dengan segera menjadi terikat kepada Krsna. Narada Muni bertanya kepada sang pemburu, "O Vaisnaya, apakah kau memperoleh makan secukupnya ?". Sang pemburu menjawab, "Guru Maharaja yang hamba cintai, siapapun yang anda kirim, mereka selalu memberikan saya sesuatu, janganlah kirim begitu banyak biji-bijian. Kirimlah cukup untuk dua orang saja". Narada Muni memberkahinya, "Semoga kau mujur". Setelah itu Narada Muni dan Parvata Muni menghilang dari tempat itu.